Selasa, 11 September 2007
Upaya meningkatkan produksi rempah dan mengembalikan posisi rempah Indonesia dalam perdagangan dunia perlu didukung oleh berbagai pihak yaitu pelaku usaha agribisnis dan agroindustri rempah, peneliti, instansi pemerintah, dan pengguna rempah. Sehubungan dengan itu maka Masyarakat Rempah Indonesia melalui Masyarakat Rempah – Institut Pertanian Bogor (MR-IPB) selenggarakan Semiloka Nasional bertajuk “Sumbangasih Perguruan Tinggi Dalam Pengembangan Rempah Indonesia” dengan lingkup kegiatan Presentasi oral dan diskusi dengan Pemerintah, Asosiasi Pengusaha, Petani dan Peneliti, Penyajian poster, Pameran di Auditorium Toyib Hadiwidjaja, Fakultas Pertanian IPB, Kampus Darmaga, Bogor (10/9).
Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk dapat berperan serta dalam pengembangan rempah Indonesia dan diharapkan dapat menginventarisasi dan mengelaborasi usaha perbaikan subsistem hulu hingga hilir maupun kelembagaan perempahan. Selain itu, semiloka ini juga bertujuan untuk saling mempertemukan pemangku kebijakan Dewan Rempah Indonesia (DRI) yang meliputi para pelaku usaha agribisnis dan agroindustri rempah, peneliti, pemerintah, pengguna rempah; mensosialisasikan sebagian penelitian rempah di Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian; dan menyusun arah pengembangan rempah Indonesia.
Menurut para pakar rempah IPB, rempah diartikan sebagai seluruh tanaman aromatik atau bagian tanaman yang digunakan dalam bentuk segar atau kering untuk memberikan rasa, aroma dan warna pada makanan dan minuman. Rempah juga digunakan sebagai bahan baku industri farmasi, jamu, kosmetik dan industri rokok.
Indonesia termasuk salah satu negara pemasok utama rempah dalam perdagangan dunia terutama untuk komoditi lada, pala, kayu manis, panili dan cengkeh. Terjadi penurunan kontribusi rempah Indonesia dalam perdagangan dunia saat ini. Kendala utama dalam produksi rempah antara lain (1) Tanaman yang sudah tua atau rusak; (2) Teknik budidaya yang diterapkan oleh petani belum baik sehingga menyebabkan rendahnya hasil maupun mutu hasil; (3) Keterbatasan lahan dan modal petani; (4) Terbatasnya akses informasi dan teknologi; (5) Kelembagaan petani dan asosiasi petani belum berperan optimal; (6) Harga produk berfluktuasi; (7) Iklim investasi kurang menarik; (8) Fasilitas perdagangan kurang mendukung, serta (9) Isu kesehatan pangan dan lingkungan yang berkaitan dengan penggunaan pupuk dan pestisida buatan.
Penyelenggara kegiatan yang dihadiri staf pengajar, mahasiswa, peneliti, asosiasi pengusaha, produsen bahan baku , dan pengguna rempah ini akan dipersiapkan menjadi salah satu divisi dari Pusat Studi Biofarmaka – LPPM IPB. Para peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia antara lain Medan , Bengkulu, Palu , Manado , Jakarta serta Bogor .
Hadir juga Kepala LPPM IPB, Prof. Dr . Ir. Rizal Syarief S., DESS yang memberikan sambutan sekaligus memperkenalkan Masyarakat Rempah (MR) IPB kepada audiens, Kepala Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB, Prof. Dr. Ir. Latifah K. Darusman, MS. Diundang untuk menjadi keynote speaker Ketua Dewan Rempah Indonesia , Adi Sasono dan Dirjen Perkebunan, Departemen Pertanian, Ir. Achmad Mangga Barani, MM. Diskusi panel pada hari itu menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan diantaranya: Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), PT Martina Berto (Sari Ayu), Wakil Petani Vanilla Banten, Ketua Asosiasi Petani Cengkeh (APCI), Wakil dari Perguruan Tinggi (IPB dan UGM), Pusat Penelitian Biologi LIPI, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
Menurut GAPMMI, Indonesia baru mengekspor 150 ribu ton/tahun sedangkan kebutuhan pasar dunia saat ini akan obat tradisional, jamur dan rempah-rempah baru, sekitar 600 ribu ton/tahun. “Setiap orang Indonesia rata-rata belanja hanya untuk obat-obatan Rp. 200.000/tahun, maka omzet penjualan obat tradisional Rp. 44 triliun, diperkirakan 10% dari obat-obatan tersebut merupakan Biofarmaka, sehingga nilai ekonomi sebesar Rp 4,5 triliun, maka ini adalah peluang terbuka membangun perekonomian lewat agroindustri,” ujar Ir. Tri Wibowo Susilo, MBA, Wakil dari GAPMMI. (zul/nUr)
sumber: IPB





SEJALAN DENGAN KENAIKAN HARGA BBM SEMAKIN MELAMBUNG TINGGI SUSU TAK TERBELI YUSUF KALA SEMAKIN MEMBUMBUNG DADANYA YANG KIRI SEKALIGUS ADIKNYA HALIM KALA PEDAGANG KREN MASAH KINI DENGAN GANTI-GANTI CEWEK SETIAP HARI , SEBAGAIMANA BANYAK KORBANYA DIANTARANYA AKU SENDIRI , SESAAT ITU AKU TERKESAN DENGAN SEORANG ULAMA MUDA YANG MODERAT DAN PEMIMPIN MUDA YANG SANGAT BERSAHAJA PROF.DR.NANANG HARIADI SE.MSc GUS HAR KETUA UMUM /AJARAHAM DPP KOBUKI YANG MUNGKIN SANGGUP MENURUNKANKAN HARGA BBM DI NEGERI INI. OLEH SEBAB ITU KAMI ATAS NAMA SEKRETARIS PENGEMBANGAN SDM DAN EKONOMI DPP KOBUKI MENGELUARKAN SIKAP.
1) APABILA PEMERINTAH TIDAK BISA MENURUNKAN HARGA BBM KEMBALI MAKA KAMI MINTA DRS YUSUF KALA SEBAIKNYA TURUN DARI JABATANNYA WAKIL PRESIDEN DAN SILAKAN DI SERAHKAN PADA PROF.DR.NANANG HARIADI SE.MSc GUS HAR KETUA UMUM /AJARAHAM DPP KOBUKI.
DEMIKIAN PERNYATAAN KAMI KELUARKAN UNTUK DI SAMPAIKAN PADA SEGENAP MASYARAKAT DAN RAKYAT DI SELURUH INDONESIA JAKARTA 25 MEI 2008
DEWAN PENGURUS PUSAT
KONTAK BUDAYA KOMUNIKASI INDONESIA
DEPARTEMEN PENGEMBANGAN SDM DAN EKONOMI
(DEPT P SDM & EKONOMI DPP KOBUKI)
SARINI VERGIANTY
KOORDINATOR DEPT PSDM&EKONOMI DPP KOBUKI)
HP 0818960699
There are 5 houses in five different colors
In each house lives a different nationality.
These 5 owners drink a certain beverage, smoke a certain brand of cigar and keep a certain pet.
No owners have the same pet, smoke the same brand of cigar, or drink the same beverage.
The CLUES:
The Brit lives in the Red house.
The Swede keeps dogs as pets.
The Dane Drinks tea.
The Green House is on the left of the White House.
The Green House’s owner drinks coffee.
The person who smokes Pall Mall rears birds.
The owner of the yellow house smokes Dunhill.
The man in the center house drinks milk.
The Norwegian lives in the first house.
The man who smokes Blends lives next to the one who keeps cats
The man who keeps horses lives next to the man who smokes Dunhill.
The man who smokes Blue Master drinks beer.
The German smokes Prince.
The Norwegian lives next to the Blue House.
The man who smokes Blends has a neighbor who drinks water.
The QUESTION:
Who owns the fish?