Wawancara
Apa kata mereka 1
M. Arfan (Ketua Bidang Infokom PB HMI) Cp 021-68825954
Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun HMI yang “ke 60”, maka kami menghadirkan wawancara dengan tema “APA KATA MEREKA”. Sebuah refleksi, pandangan dan ekspektasi dari tokoh-tokoh yang selama ini merupakan bagian dari episode perjalanan HMI, baik didalam maupun diluar organisasi. Semoga romantisme, pandangan dan keinginan kakanda kita yang dapat kami rangkum, bisa menjadi sebuah spirit dan motivasi bagi kita untuk berjuang membangun diri, organisasi dan bangsa ini melalui wadah organisasi yang kita cintai. Tak lupa terima kasih kepada kakanda yang telah memberikan waktunya bagi kami, sehingga kolom ini dapat hadir dan Kami mohon maaf atas keterbatasan yang ada pada diri kami dalam melakukan peng-editan. Kepada seluruh kader, alumni dan simpatisan HMI selamat menikmati.
Fachry Ali (Alumni HMI)
Saya dulu adalah anggota PII, setelah saya menjadi mahasiswa maka kemudian saya masuk HMI pada tahun 1974 melalui HMI Cabang Ciputat. Dulu HMI adalah organisasi intelektual yang mencetak kader-kader technocrat dan merupakan idola tiap anak muda terpelajar, serta curiga dengan politisi yang cenderung manipulatif dan bohong melalui kemampuan berpidato. Sedangkan hari ini HMI adalah pencetak para kader politisi yang dulu dicurigai oleh HMI itu sendiri. Saya berkeyakinan 10 tahun kedepan rakyat kian bosan dengan politik, bosan dimanipulasi dan bosan dibohongi. Oleh karenanya 60 tahun HMI kini, jika dia ingin tetap Berjaya, maka mencetak kader-kader intelektual (technocrat) adalah sebuah keharusan, karena bangsa ini akan bersiap melakukan substitusi kepemimpinan politik dengan kepemimpinan technocrat. Membaca dan menulislah, karena itu yang akan membuat anda dewasa secara intelektual.
Anas Urbaningrum (Ketua Umum PB HMI 1997-1999)
Motivasi awal saya masuk HMI hanyalah ingin belajar cara berorganisasi, namun dalam perjalanannya HMI adalah tarikan nafas saya, salah satu episode dalam hidup sebagai upaya pencarian jati diri dan kematangan yang pastinya tidak akan mungkin bisa dilupakan. Tahun 1990 saya ikut Basic Training di HMI Komisariat FISIP UNAIR. Hari ini pada dasarnya tidak terlalu berbeda ketika saya dulu aktif ber-HMI, hanya saja pada masa itu masih banyak cabang yang memiliki warna khas tertentu khususnya di bidang intelektual. Jika umat Islam ingin maju maka haruslah kembali ke Qur’an dan hadist, begitupun dengan Himpunan ini, jika ingin kembali berjaya maka haruslah kembali ke misi dan filosophi dasar ketika dia didirikan. 60 tahun HMI kini marilah kita “jujur untuk kembali belajar kepada sejarah.”
A. Dolly Kurnia Tanjung (Ketua DPP KNPI)
Saya berasal dari keluarga yang memang HMI, Bapak saya pernah menjadi staf ketua di PB HMI, dan Ibunda saya adalah seorang HMI-Wati. Tahun 1994 melalui HMI komisariat FMIPA UNPAD saya memulai ke-HMI-an saya. HMI adalah sebuah “swalayan” yang menyediakan berbagai macam kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak muda Islam, progresif dan berintelektual yang ingin menggali potensi dirinya dan memiliki keinginan berpartisipasi dalam pembangunan bangsa, hanya saja kader-kader hari ini kurang maksimal dalam memamfaatkannya, akibatnya hari ini saya melihat, baik secara individu dan institusi HMI kehilangan karakteristiknya, sudah sulit membedakan mana yang HMI mana yang bukan, dan ini adalah pekerjaan rumah yang merupakan tugas kita semua untuk menyelesaikannya, terutama pada sisi bagaimana menghasilkan pengkaderan yang up to date bagi kondisi kekinian. Pada kesempatan ini saya mengucapkan selamat ber-ulang tahun kepada HMI yang ke-60, bagi adik-adikku marilah tetap jadikan HMI sebagai organisasi yang mampu menghasilkan kader-kader terbaik bagi bangsa ini.
M. Ikhlas El Qudsi (Dir. Eksekutif MLC)
Kongres Padang tahun 1986 merupakan momentum awal saya menyatakan keinginan hati untuk ikut berkiprah di HMI, akhirnya tahun 1990 secara formal saya bergabung dengan HMI Komisariat Mipa UNAND Padang. Situasi dan kondisi kebangsaan sekarang sebetulnya memberikan keleluasaan dan peluang banyak bagi HMI untuk mengekspresikan nilai-nilai ideologinya, hanya saja seiring tantangan yang juga semakin kompleks membuat energi yang harusnya bisa dimamfaatkan untuk hal-hal yang lebih substanstif terkuras untuk mengurusi masalah sepele seperti konflik internal yang tidak sehat. Di usianya yang ke 60 semoga dalam perubahan zaman ini HMI bisa kembali menemukan jati dirinya, ciptakan, rebut dan mamfaatkanlah peluang.





Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.
Saya dulu adalah anggota Mapala,kemudian saya masuk HMI pada tahun 2003 melalui HMI Cabang Tolitoli.dulu HMI mampu mencetak kader2 militan (Intelektual) dan kadang kita terlena dengan kebesarannya.hari ini telah mencetak para politikus, Saya berkeyakinan 5 tahun kedepan rakyat kian bosan dengan politik, bosan dimanipulasi dan bosan dibohongi. Oleh karenanya , jika HMI ingin tetap Berjaya, maka mencetak kader-kader intelektual (technocrat) adalah sebuah keharusan, karena bangsa ini akan bersiap melakukan substitusi kepemimpinan politik dengan kepemimpinan technocrat. Membaca dan menulislah, karena itu yang akan membuat anda dewasa secara intelektual. Allahu Akbar..
pada tahun 1998 saya masuk kuliah di fakultas hukum unkris, eforia politik begitu menakjupkan. awalnya saya kuliah hanya memenuhi status saya sebagai mahasiswa saja yang tidak memeiliki orientasi baik secara akademis meupun organisasi. pada semester kedua kuliah saya, saya mengikuti latihan dasar kepemimpinan I (LK I HMI) hasilnya saya mulai dapat memahami untuk apa saya kuliah dan untuk apa saya berorganisasi . berkaitan dengan hut hmi ke 60. sudah seharusnya kanda-kanda kita yang konsen terhadap eksistensi HMI saat ini. tidak hanya berkomentar serta berpangku tangan saja, tapi lebih dari pada itu karya nyata serta tindakan riel harus sesegerah di realisasikan. dan saya masih berkeyakinan penuh bahwa HMI merupakan organisasi mahasiswa tertua yang juga harus bisa menempatkan sebegai organisasi mahasiswa yang moderen saya setujuh dengan komentar kanda fachry ali, anas, dolly. pertanyaannya bagaimana kita merealisasikan perubahan tersebut dalam waktu cepat ….?